Kegiatan


Nasir Abbas Berikan Tips Hindari Kelompok Radikal

Bandar Lampung - Jaringan terorisme dari kelompok Jamaah Islamiah (JI), ternyata masih adan di Provinsi Lampung. Hal tersebut disampaikan oleh Nassir Abbas, mantan pentolan Jamaah Islamiyah (JI), saat bertemu dengan Kabid Humas Polda Lampung Kombes Zahwani Arsyad Pandra, di Mapolda Lampung, Selasa (20/3/2020).
 
Menurut Nasir, pasca ditangkapnya para Wijayanto, yang merupakan salah satu pimpinan JI, membuktikan kelompok yang pernah dipimpin oleh Abu Bakar Baasyir, dengan sejumlah kasus peledakan, seperti bom bali misalnya, masih ada.
Mereka masih ada berbentuk sel-sel kecil, yang tidur, dan belum melakukan gerakan amaliah. "JI untuk di Lampung, saya rasa masih ada, tapi mereka skup kecil berbentuk komunitas, mereka belum cukup untuk melakukan amaliah, cuma mereka masih mencoba menyebarkan pemahaman, dengan sosialisasi, memang ada dua faksi, ada yang ikut pernyataan osama Bin Laden (Al-qaida) untuk amaliah, ada yang menolak," kata Nasir.
 
Selain itu, kata Nasir yang pernah melakukan pelatihan militer di Afganistan, dan Filipina, di provinsi Lampung memang  terdapat beberapa potensi jaringan radikal, seperti Jamaah Ansharut Daulah (JAD), ada NII dan beberapa kelompok lain. "Di sini (Lampung) kelompoknya macam-macam, cukup lengkap, tapi emang JAD yang sekarang lagi marak," katanya.
 
Namun sel-sel kecil JI, ataupun eks simpatisan JI tidak ada yang bergabung dengan JAD yang memiliki afiliasi dengan ISIS. "Nggak ada JI masuk JAD, JI ini terstruktur baik organisasinya, kalau JAD banyak kelompok-kelompok kecil. JAD siapapun kelompoknya ada ketuanya (kecil), mereka bergerak atas pesan aman Abdurahaman (pemimpin JAD)," papar pria asal Malaysia itu.
 
Nasir Abbas memberikan tips dan trik, guna menghindari kelompok radikal. Kata dia, ada beberapa tingkatan, yakni Intoleran atau pemahaman untuk membenci kelompok lain yang berbeda. 
 
Kemudian meningkat ke radikal, atau pemahaman yang bertentangan dengan 4 Pilar Kebangsaan dan bernegara seperti menolak pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka tunggal ika, yang berujung hendak merubah sistem Negara. "Pada dasarnya semua kegiatan keagamaan baik, namun saya sarankan jika mengarah ke dua hal tersebut seperti intoleran, dan radikal, kita bisa pilih kegiatan keagamaan, yang lain, itu kuncinya," katanya.
 
Sementara Kabid Humas Polda Lampung Kombespol Zahwani Pandra Arsyad mengatakan, jaringan radikal dan intoleran, tetap dalam pantauan aparat, dengan mekanisme terbuka dan tertutup. "Kita perkuat sosialisasi pencegahan dan deradikalisasi, bersama BNPT dan FKPT. Pencegahan paham radikal," ungkapnya. (*)
 
Sunber : kupastuntas.co