Kegiatan


Hadiri Pesta Bona Taon, Kabid Media FKPT Ingatkan Bahaya Penyebaran Radikalisme di Medsos

Bandar Lampung - Pesatnya penggunaan media sosial (medsos) telah dimanfaatkan oleh kelompok teroris untuk menyebarkan paham radikalisme. Ancaman radikalisasi melalui medsos ini harus diantisipasi bersama-sama.
 
Demikian disampaikan Kabid Media Massa, Hukum dan Humas Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung, Donald Harris Sihotang MM saat menghadiri Pesta Bona Taon Parsadaan Toga Raja Sitompul se-Provinsi Lampung di Aula SMP Fransiskus Way Halim, Minggu (8/3/2020).
 
Ia mengatakan, penyebaran paham radikalisme makin mudah menjalar dengan penggunaan media sosial. Terlebih banyak remaja dan pemuda yang aktif berselancar di dunia maya. Banyak di antara mereka yang kemungkinan masih labil dan mudah disusupi paham-paham radikal.
“Jadi dengan kemajuan teknologi semakin banyak tersebar doktrin soal radikalisme. Lewat internet dan media sosial, kelompok teroris menyusupkan beragam propaganda untuk memikat penggunanya. Mereka memanfaatkan medsos untuk merekrut, mempengaruhi, dan mengajak orang untuk menjadi readikal,” kata Donald Sihotang.
 
Ketua Umum Kerukunan Masyarakat Batak (Kerabat) Lampung ini menyampaikan proses radikalisasi yang sebelumnya dilakukan di kamp-kamp pelatihan, kini kebanyakan terjadi lewat internet. Bahaya radikalisasi via sosmed ini sebenarnya bisa dibendung, salah satunya lewat peranan keluarga. Orang tua harus memberikan panduan yang jelas kepada anak, terutama yang mulai menginjak usia remaja.
“Kasus paparan radikalisme terhadap anak-anak remaja ini sudah banyak terjadi. Maka dalam mencegah paham-paham radikal ini perlu peran dari orang tua untuk mengawasi dan mengarahkan aktifitas anaknya dalam bersosial media,” sambung dia.
 
Donald mengatakan, setiap kegiatan masyarakat di sosial media sebenarnya dipantau ketat oleh BNPT. Maka jangan sampai masyarakat ikut-ikutan membagikan konten-konten yang berbau radikalisme dan terorisisme.
Bicara soal terorisme, Donald menjelaskan bukan hanya soal aksi bom yang terjadi di berbagai tempat, terutama di rumah-rumah ibadah. “Terorisme itu bukan hanya tindakan bom. Tetapi perbuatan yang dapat menimbulkan ketakutan, kekacauan atau menebar teror di tengah masyarakat itu sudah masuk kategori teroris,” jelas dia.
 
Ia menilai perlu adanya proses pembelajaran ke masyarakat untuk bisa memanfaatkan berbagai platform media secara baik. Agar pemanfaatannya tidak menjadi sarana penyebaran paham radikal. Karena itu Donald juga mengingatkan masyarkat di Lampung agar tidak mudah membagikan berita-berita atau informasi yang tidak jelas sumbernya.
“Berita-berita hoax juga banyak di sosmed, kadang ada juga tak sengaja ikut membagikan. Nah karena itu kalau kita nggak yakin isi beritanya, jangan kita ikut membagikan,” tandasnya. 
 
Sumber : kupastuntas.co